Derita Pengelola Jurnal di Era “Ketik Doang, Validasi Kagak”

Source: Generated by AI
Sindrom Curigetion Curahan Hati Seorang Pengelola Jurnal
Menjadi pengelola sekaligus editor teknis dalam jurnal ilmiah di era sekarang rasanya mirip mendapat peran sebagai detektif dalam film misteri. Bedanya, kalau detektif mencari pelaku kejahatan, editor teknis justru sibuk memburu sitasi fiktif dan DOI yang ternyata hanya ada di dunia imajinasi.
Jujur saja, kehadiran Artificial Intelligence (AI) seperti ChatGPT, Claude, dan berbagai turunannya sebenarnya merupakan berkah luar biasa. Dulu, seseorang mungkin membutuhkan waktu berhari-hari, bahkan berminggu-minggu, untuk menyusun latar belakang penelitian. Sekarang? Sambil menikmati secangkir kopi, cukup mengetik sebuah prompt, menekan tombol Enter, lalu… taraaa! Dalam hitungan detik, muncullah artikel lengkap, mulai dari judul hingga daftar pustaka.
Sayangnya, persoalannya bukan terletak pada AI-nya, tapi ada pada satu tahap yang sering kali diabaikan: validasi dan kurasi.
Karena terlalu percaya pada hasil yang diberikan AI, sebagian penulis tampaknya mengalami kondisi psikologis baru yang layak diberi nama Kemalasan Akademis. AI memberikan paragraf beserta sitasi, lalu semuanya langsung di-copy-paste tanpa pernah diperiksa kembali. Padahal, kita tahu bersama bahwa AI juga bisa “berhalusinasi” dengan sangat meyakinkan.
Percayalah, halusinasi AI sering kali lebih rapi daripada kenyataan.
Belum lama ini saya memeriksa sebuah naskah yang tampak sangat meyakinkan. Kalimatnya mengalir, bahasanya akademis, sitasinya bertebaran. Namun, sebagai editor teknis yang sudah cukup lama “bergaul” dengan berbagai naskah, rasa penasaran saya mulai muncul.
Saya mencoba membuka satu per satu referensinya.
Dan di sinilah petualangan dimulai.
Ada DOI yang ternyata mengarah ke artikel pertanian, padahal naskahnya membahas psikologi remaja. Ada pula sitasi yang setelah dicari ke berbagai basis data sama sekali tidak pernah ada.
Benar-benar sitasi gaib.
Padahal, penulis zaman sekarang sering lupa bahwa:
Mengutip bukan sekadar menempelkan nama penulis di akhir kalimat yang terdengar indah. Mengutip berarti memastikan bahwa penulis tersebut benar-benar pernah menulis dan mempertanggungjawabkan gagasan yang kita kutip.
Kalau kejadian seperti ini terus berulang, akhirnya muncul pertanyaan sederhana.
Sebenarnya siapa yang harus disalahkan?
Maraknya naskah instan hasil bantuan AI, yang tidak disertai proses verifikasi, perlahan-lahan membuat para pengelola jurnal mengalami krisis kepercayaan. Kalau boleh membuat “diagnosis” sendiri, mungkin kami sedang mengalami beberapa gejala berikut:
-
Curigetion: rasa curiga berlebihan terhadap setiap kalimat yang terlalu rapi.
Trust Issue DOI: setiap melihat DOI, respons pertama adalah mengecek apakah benar-benar ada.
Paranoia Sitasi: jangan-jangan referensi berikutnya juga fiktif.
Suudzon : setiap sitasi dan daftar pustaka dianggap perlu diinvestigasi.
Ironisnya, pekerjaan editor yang seharusnya berfokus pada substansi ilmiah, kontribusi keilmuan, metodologi, dan kebaruan penelitian kini justru banyak tersita untuk memverifikasi referensi, mencocokkan DOI, mengecek metadata artikel, hingga memastikan bahwa setiap sitasi benar-benar ada.
Dear para penulis…
Silakan menggunakan AI. Tidak ada yang salah dengan itu.
AI adalah alat yang luar biasa untuk membantu menyusun ide, memperbaiki tata bahasa, membuat ringkasan, atau membantu proses brainstorming.
Namun, AI tetaplah asisten, bukan penulis utama, apalagi sumber kebenaran mutlak.
Sebelum menekan tombol Submit, luangkan sekitar 15 menit untuk melakukan pemeriksaan sederhana:
-
Apakah setiap DOI di daftar pustaka benar-benar dapat diakses?
Apakah artikel yang disitasi memang memuat argumen yang kita tuliskan?
Apakah semua referensi benar-benar ada dan sesuai dengan topik penelitian?
Percayalah, lima belas menit yang kalian gunakan untuk memeriksa referensi dapat menghemat berjam-jam waktu editor teknis dalam proses penyuntingan naskah. jangan ditambah lagi dengan pekerjaan mencari referensi-referensi fiktif hasil halusinasi AI.
Mari kita manfaatkan AI secara bijak. Karena kualitas sebuah artikel ilmiah tidak hanya ditentukan oleh seberapa cepat ia ditulis, tetapi juga oleh seberapa teliti penulis memverifikasi setiap informasi yang disajikan.
Salam Hangat