Pengalaman Anakku Sekolah Paud Inklusi Psikologi UGM

Ketika memutuskan untuk menyekolahkan si kecil di PAUD, ada banyak harapan yang saya letakkan di sana. Sebagai seorang ibu, tentu saya menginginkan yang terbaik untuk anak. Hal itulah yang mendorong saya mengambil keputusan ini. Dengan niat lillahi ta’ala dan perasaan tega tidak tega, saya menguatkan tekad, bismillah.

Hari pertama sekolah rasanya berat sekali. Melihat Abhan menangis dan takut menghadapi lingkungan serta orang-orang baru membuat hati saya ikut sedih. Beberapa jam saya temani, dan Abhan tampak asyik mengamati lingkungan barunya. Namun, karena saat itu saya tidak sempat izin atau cuti dari pekerjaan, akhirnya saya meninggalkan Abhan dan digantikan oleh mbak pengasuhnya. Alhamdulillah, semua berjalan lancar. Abhan aman terkendali, bahkan bisa tidur siang dengan nyaman.

Hari kedua, Abhan masih ditemani pengasuhnya. Ia mulai belajar beradaptasi dan mengenal lingkungan barunya. Oh iya, ketika si kecil pulang sekolah, sebaiknya kita sering mengajaknya bercerita tentang pengalaman di sekolah. Dengan begitu, ia akan semakin antusias dan tertarik dengan pengalaman barunya.

Lanjut ke hari kedua. Pengasuhnya hanya menemani di dalam ruangan sebentar karena setelah itu diminta keluar oleh gurunya. Abhan harus mulai belajar mandiri dan tegar. Hehehe… seperti lagunya Rossa saja ya.

Saat ditinggal keluar oleh pengasuhnya, Abhan memang masih menangis dan merengek. Namun hanya sebentar karena ibu gurunya berhasil mengalihkan perhatiannya. Sepertinya Abhan memang termasuk anak yang cukup cepat menyesuaikan diri. Alhamdulillah.

Hari ketiga dan seterusnya, Abhan masih agak menangis ketika akan ditinggal, tetapi hanya sebentar. Setelah itu, ia langsung lupa karena sudah sibuk dengan mainan dan teman-teman barunya. Ditambah lagi, menurut Abhan, ibu-ibu gurunya asyik sekali.

Sekarang malah sering memuji ibu gurunya:
“Bu Mita cantik, Bu Nana cantik, Bu Wiwin cantik, Bu Hesti cantik, Bu Ana cantik, Bu Titi cantik, Bu Tiwi cantik…”

Lalu tiba-tiba:
“Anda cantik… Ayah cantik…”

“Lho Ban, kok Ayah cantik sih?”

Wakakakaka…

Alhamdulillah, seiring berjalannya waktu, si kecil semakin mandiri dan tidak menangis lagi saat ditinggal. Malah sekarang suka menggoda dan beralih peran sendiri.

“Dadaa… Ayah…”
“Dadaa… Anda…”
“Dadaa… Mbak Susi…”

Sambil pura-pura menangis dengan mimik wajah yang lucu sekali. Hahaha…

Begitu selesai salim, Abhan langsung meletakkan sepatu di rak, menyimpan tas di loker, dan menggantung jaket di gantungan baju. Setelah itu? Ya tentu saja, waktunya bermain!

Kadang saya sempat menyempatkan diri mengintip karena lokasi kantor dan sekolah Abhan tidak terlalu jauh. Ah, bukan tidak terlalu jauh sih, tepatnya satu lokasi. Hehehe…

Saya sering melihat Abhan sedang asyik bermain, makan kue, makan siang, atau bahkan sudah tertidur lelap hingga sore hari. Huh… leganya hati ini.

Ada beberapa hal yang membuat saya merasa nyaman menyekolahkan Abhan di tempat ini.

1. Gurunya sabar dan merupakan lulusan Sarjana Psikologi yang kompeten, sehingga kepiawaiannya dalam mengasuh dan mendidik siswa tidak diragukan lagi.

2. Tempatnya sangat nyaman, aman, bersih, dan terasa seperti rumah. Hal ini penting untuk tumbuh kembang anak, terlebih dengan fasilitas yang disediakan.

3. Ini yang paling penting juga: satu lokasi dengan kantor saya. Hwaaa… bisa mengintip dan menelepon sewaktu-waktu. Hehehe… bonus tersendiri bagi saya. Tentu saja semua ini karena kemurahan-Nya. Thanks God.

4. Kurikulumnya bagus, terutama kegiatan field trip-nya. Hehehe… justru ibunya yang sangat antusias. Walaupun tidak pernah ikut secara langsung, ibu guru selalu menuliskan pengalaman anak-anak secara detail di buku harian siswa. Membacanya selalu membuat saya tersenyum sendiri.

5. Makanannya, insya Allah, terjamin kebersihan dan kandungan gizinya.

6. Kemandirian siswa semakin hari semakin berkembang dengan baik.

7. Perkembangan kognitifnya juga semakin terlihat kemajuannya.

8. Kemampuan sosialisasi dan perkembangan emosinya pun semakin baik dari hari ke hari.

Puas rasanya, dan tidak sia-sia bunda berjuang menegarkan hati… eh, menegakkan hati… halah… hehehe.

Abhan, ini adalah sebagian kecil perhatian kami untukmu. Rasa terima kasih kami yang tak terhingga kepada Allah karena telah menitipkanmu kepada kami. Amanah dan tanggung jawab ini begitu besar, tetapi dengan penuh optimisme kami menyatakan kesanggupan untuk menjalaninya, tentunya dengan rida Allah SWT.

Aamiin.

Love you, hun…

Sejuta muach untukmu.

NB:
Jadwal kegiatan dan menu makan Abhan selama satu minggu sudah dituliskan di papan pengumuman sekolah, lho. Siang hari mandi air hangat lalu tidur. Jadi jangan takut kelaparan, karena ada makan siang, snack pagi dan sore, kegiatan bermain, serta kegiatan belajar inti. Sip deh!

Leave a Comment

You must be logged in to post a comment.