Hidup adalah Pengabdian
Rasanya judul di atas mewakili apa yang aku rasakan beberapa hari belakangan ini. Ya, hidup adalah pengabdian. Coba kita renungkan, pengabdian apa saja yang sudah kita berikan selama hidup ini?
1. **Menjadi seorang anak.**
Setiap hari kita belajar bagaimana menghormati, berbakti, dan mengabdi kepada orang tua yang telah membesarkan kita.
2. **Menjadi seorang istri.**
Hmm… bagaimanapun kesetaraan gender digaungkan, tetap saja ada peran dan tanggung jawab yang harus dijalankan. Sebagai seorang istri, ada bentuk pengabdian yang hadir dalam setiap usaha menjaga dan merawat keluarga.
3. **Menjadi seorang ibu.**
Pengabdian yang satu ini benar-benar membutuhkan totalitas. Memang semua peran dalam hidup memerlukan kesungguhan, tetapi menjadi ibu adalah pengabdian yang sangat saya rasakan. Bukan hanya karena ini adalah tanggung jawab, melainkan karena ada masa depan yang sedang dipersiapkan melalui setiap proses yang dijalani.
4. **Menjadi seorang pekerja.**
Ini juga bentuk pengabdian. Sebagai pekerja atau karyawan, kita dituntut memberikan yang terbaik dalam pekerjaan. Kalau tidak, nanti bisa disebut “makgabut” alias makan gaji buta. Hehehe…
5. **Mengabdikan diri di lingkungan sosial dan masyarakat.**
Manusia tidak hidup sendiri. Ada banyak kesempatan untuk memberikan manfaat bagi orang lain dan lingkungan sekitar.
6. **Menjadi hamba Tuhan.**
Pada akhirnya, kita adalah hamba-Nya. Seumur hidup kita belajar menjadi abdi yang menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya.
7. **Masih banyak bentuk pengabdian lainnya.**
Coba pikirkan kembali, hal-hal apa saja dalam hidup yang menjadikan kita seorang abdi.
Benar, bukan? Hidup ini pada dasarnya adalah pengabdian. Lalu, apa sebenarnya tugas seorang abdi?
Mungkin setiap orang memiliki jawaban yang berbeda-beda sesuai dengan pengalaman dan jalan hidupnya masing-masing. Namun, ada satu hikmah yang bisa diambil: menjadi seorang abdi bukanlah perkara mudah. Tidak ada kekayaan, kecerdasan, jabatan, ataupun kedudukan yang membuat seseorang terbebas dari peran tersebut. Pada akhirnya, setiap manusia akan kembali menjadi seorang abdi, karena begitulah kehendak Tuhan.
Ikhlas dan menyadari peran serta tugas kita sebagai manusia memang terdengar mudah ketika diucapkan. Namun, dalam praktiknya tidak selalu sederhana. Meski demikian, mungkin kuncinya adalah kemauan untuk menyadari, menerima, dan kemudian mengikhlaskan setiap peran yang telah dipercayakan kepada kita.
Karena pada akhirnya, hidup bukan hanya tentang apa yang kita miliki, tetapi juga tentang bagaimana kita menjalani setiap bentuk pengabdian yang telah menjadi bagian dari perjalanan hidup kita.