Mencoba total untuk menjadi seorang ibu

Dulu, ketika sedang mengandung anak pertamaku, rasanya aku tidak pernah bosan membaca buku tentang psikologi dan perkembangan anak. Aku belajar tentang cara merawat bayi sejak masih dalam kandungan hingga setelah ia lahir. Rasanya seperti sedang mempersiapkan diri menghadapi ujian besar yang akan datang.

Ketika bayiku lahir, proses belajar itu tidak berhenti. Aku kembali membaca berbagai hal tentang perawatan bayi, stimulasi perkembangan, dan kebutuhan-kebutuhannya. Aku juga belajar dan berjuang untuk memberikan hak anak berupa ASI eksklusif selama enam bulan. Dari sinilah aku mulai merasakan betapa berat sekaligus mulianya peran seorang ibu: bekerja, namun tetap berusaha memenuhi kewajiban dan kebutuhan anak sebaik mungkin.

Belajar menjadi hal yang rutin kulakukan. Aku membaca tentang bagaimana memberikan gizi yang baik, bagaimana mendidik anak dengan tepat, dan bagaimana menyeimbangkan hak serta kewajiban sebagai seorang wanita, seorang ibu, dan seorang pekerja.

Ada kalanya perasaan bersalah hinggap di dalam sanubariku, terutama ketika harus meninggalkan si kecil bersama pengasuh atau orang lain. Ada rasa cemburu ketika menyadari bahwa sebagian besar waktunya justru dihabiskan bersama pengasuh. Bahkan ada rasa sedih ketika si kecil pernah memanggil orang tuanya dengan sebutan “mbak”. Hahaha… lucu sekaligus menggelitik hati.

Sebenarnya, apa enaknya menjadi orang tua?

Lelah. Tidur terganggu oleh tangisan si kecil. Tidak bisa bebas pergi sesuka hati. Harus membangunkannya, memandikannya, memakaikan baju, menyiapkan makanan sehat, menyuapinya, memotong kukunya, menyisir rambutnya, dan melakukan begitu banyak hal kecil lainnya yang tidak pernah ada habisnya.

Namun, ketika melihat senyumnya, tubuh mungilnya yang masih rapuh, harum khas tubuhnya, tingkah lucunya, dan segala kepolosannya, seakan semua rasa lelah dan letih itu menguap begitu saja.

Mungkin itulah sebabnya, meskipun membesarkan anak penuh tantangan dan pengorbanan, manusia tetap berharap memiliki keturunan. Karena ada keindahan yang tidak dapat digantikan oleh apa pun. Ada kebahagiaan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata, tetapi dapat dirasakan oleh setiap orang tua.

Setiap tetes keringat yang kami keluarkan, setiap usaha dan pengorbanan yang kami lakukan, semata-mata untuk anak-anak kami atas izin-Mu, ya Allah.

Sepenggal doa untuk anakku:

“Ya Allah, jadikanlah anak-anak kami anak-anak yang saleh dan salehah, anak-anak yang senantiasa menyebut nama-Mu, memuji-Mu tanpa henti, serta berjalan di jalan yang Engkau ridhai. Aamiin.”

Dan sepenggal doa untuk para orang tua kami:

“Ya Allah, gantilah setiap tetes keringat yang mereka keluarkan demi mencari rezeki untuk kami, setiap helaan napas yang mereka tahan demi bersabar menghadapi kami, serta setiap linangan air mata yang jatuh karena rasa takut dan khawatir terhadap kami. Balaslah semua itu dengan rahmat, ampunan, dan surga yang telah Engkau janjikan. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.”

Leave a Comment

You must be logged in to post a comment.